Senin, 09 April 2012

Penatalaksanaan Resusitasi Bayi Baru Lahir

Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir
Sumber gambar:
nursingcrib.com
Setelah melakukan penilaian dan memutuskan bahwa BBL perlu resusitasi, tindakan harus segera dilakukan. Penundaan pertolongan membahayakan bayi. Letakkan bayi di tempat yang kering. Pemotongan tali pusat dapat dilakukan di atas perut ibu atau dekat perineum.

Pemotongan tali pusat

  • Pola di atas perut ibu
    Bidan yang sudah terbiasa dan terlatih meletakkan bayi di atas kain yang ada di perut ibu dengan posisi kepala sedikit ekstensi, selimuti bayi dengan kain, tetapi bagian dada dan perut tetap terbuka kemudian klem dan potong tali pusat. Tali pusat tidak usah diikat dulu, tidak dibubuhkan apapun dan tidak dibungkus.
  • Pola dekat perineum ibu
    Jika tali pusat sangat pendek sehingga cara pertama tidak memungkinkan, setelah bayi baru lahir dinilai, letakkan bayi di atas kain yang ada di dekat perineum ibu, kemudian segera klem dan potong tali pusat (tanpa diikat), tidak bubuhi apapun dan tidak dibungkus.

Tindakan resusitasi bayi baru lahir (bagan alur

Jika bayi tidak cukup bulan dan tidak bernapas atau bernapas mega-megap dan atau tonus otot tidak baik
Sambil memulai langkah awal:
  • Beritahukan ibu dan keluarga, bahwa bayi mengalami kesulitan bernapas dan bahwa Anda akan menolongnya
  • Mintalah salah seorang keluarga mendampingi ibu untuk memberi dukungan moral, menjaga ibu dan melaporkan bila ada perdarahan.

Tahap I: Langkah Awal

1. Jaga bayi tetap hangat
  • Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas perut ibu atau sekitar 45 cm dari perineum
  • Selimuti bayi dengan kain tersebut, wajah, dada dan perut tetap terbuka, potong tali pusat
  • Pindahkan bayi yang telah diselimuti kain ke-1 ke atas kain ke-2 yang telah digelar di tempat resusitasi
  • Jaga bayi tetap diselimuti wajah dan dada terbuka di bawah pemancar panas.
2. Atur posisi bayi
  • Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas ibu atau sekitar 45 cm dari perineum
  • Posisikan kepala bayi pada posisi menghidu yaitu kepala sedikit ekstensi dengan mengganjal bahu.
Posisi menghidu
Posisi menghidu. Sumber gambar: glown.com
3. Isap lendir
Gunakan alat penghidap DeLee dengan cara sebagai berikut:
  • Isap lendir mulai dari mulut dahulu, kemudian hidung
  • Lakukan pengisapan saat alat pengisap ditarik keluar, tidak pada waktu dimasukkan
  • Jangan lakukan pengisapan terlalu dalam yaitu jangan lebih dari 5 cm ke dalam mulut karena dapat menyebabkan denyut jantung bayi menjadi lambat atau bayi tiba-tiba berhenti bernapas. Untuk hidung jangan melewati cuping hidung.
Jika dengan balon karet penghisap lakukan dengan cara sebagai berikut:
  • Tekan bola di luar mulut dan hidung
  • Masukkan ujung pengisap di mulut dan lepaskan tekanan pada bola (lendir akan terisap)
  • Untuk hidung, masukkan di lubang hidup sampai cuping hidung dan lepaskan.
Isap lendir BBL
Resusitasi. Isap lendir BBL. Sumber gambar: helid.digicollection.org
4. Keringkan dan rangsang bayi
  • Keringkan bayi dengan kain ke-1 mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan. Tekanan ini dapat merangsang BBL mulai menangis
  • Rangsangan taktil berikut dapat juga dilakukan untuk merangsang BBL mulai bernapas:
    • Menepuk/ menyentil telapak kaki; atau
    • Menggosok punggung/ perut/ dada/ tungkai bayi dengan telapak tangan
  • Ganti kain ke-1 yang telah basah dengan kain ke-2 yang kering dibawahnya
  • Selimuti bayi dengan kain kering tersebut, jangan menutupi muka dan dada agar bisa memantau pernapasan bayi.
5. Atur kembali posisi kepala bayi
  • Atur kembali posisi bayi menjadi posisi menghidu

Langkah penilaian bayi

Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, tidak bernapas atau megap-megap
  • Bila bayi bernapas normal: lakukan asuhan pasca resusitasi
  • Bila bayi megap-megap atau tidak bernapas: mulai lakukan ventilasi bayi.

Tahap II: Ventilasi

Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah volume udara ke dalam paru dengan tekanan positif untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernapas spontan dan teratur.
Langkah-langkah:
1. Pasang sungkup
Pasang dan pegang sungkup agar menutupi dagu, mulut dan hidung.
2. Ventilasi 2 kali
Lakukan tiupan atau remasan dengan tekanan 30 cm air
Tiupan awal tabung-sungkup atau remasan awal balon-sungkup sangat penting untuk menguji apakah jalan napas bayi terbuka dan membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai bernapas.
Lihat apakah dada bayi mengembang
Tindakan ventilasi BBL
Tindakan ventilasi BBL sambil memperhatikan dada bayi. Sumber gambar: helid.digicollection.org

Saat melakukan tiupan atau remasan perhatikan apakah dada bayi mengembang.
Jika tidak mengembang:
  • Periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara yang bocor
  • Periksa posisi kepala, pastikan posisi sudah menghidu
  • Periksa cairan atau lendir di mulut. Bila ada lendir atau cairan lakukan pengisapan
  • Lakukan tiupan atau remasan 2 kali dengan tekanan 30 cm air, jika dada mengembang lakukan tahap berikutnya.
3. Ventilasi 20 kali dalam 30 detik
  • Tiup tabung atau remas balon resusitasi sebanyak 20 kali dalam 30 detik dengan tekanan 20 cm air sampai bayi mulai bernapas spontan dan menangis
  • Pastikan dada mengembang saat dilakukan tiupan atau peremasan, setelah 30 detik lakukan penilaian ulang napas.
Jika bayi mulai bernapas/ tidak megap-megap dan atau menangis, hentikan ventilasi bertahap.
  • Lihat dada apakah ada retraksi
  • Hitung frekuensi napas per menit
    Jika bernapas >40 per menit dan tidak ada retraksi berat:
    • Jangan ventilasi lagi
    • Letakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit dada ibu dan lanjutkan asuhan BBL
    • Pantau setiap 15 menit untuk pernapasan dan kehangatan
Jangan tinggalkan bayi sendiri.
Lakukan asuhan pasca resusitasi.
Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, lanjutkan ventilasi.
4. Ventilasi, setiap 30 detik hentikan dan lakukan penilaian ulang napas
  • Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air)
  • Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan penilaian ulang bayi, apakah bernapas, tidak bernapas atau megap-megap
Jika bayi mulai bernapas normal/ tidak megap-megap dan atau menangis, hentikan ventilasi bertahap dan lakukan asuhan pasca resusitasi.
Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, teruskan ventilasi 20 kali dalam 30 detik kemudian lakukan penilaian ulang napas setiap 30 detik.
5. Siapkan rujukan jika bayi belum bernapas spontan sesudah 2 menit resusitasi
  • Jelaskan kepada ibu apa yang terjadi, apa yang Anda lakukan dan mengapa
  • Mintalah keluarga untuk mempersiapkan rujukan
  • Teruskan ventilasi selama mempersiapkan rujukan
  • Catat keadaan bayi pada formulir rujukan dan rekam medik persalinan
6. Lanjutkan ventilasi, nilai ulang napas dan nilai denyut jantung
  • Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air)
  • Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan nilai ulang napas dan nilai jantung.
Jika dipastikan denyut jantung bayi tidak terdengar, ventilasi 10 menit. Hentikan resusitasi jika denyut jantung tetap tidak terdengar, jelaskan kepada ibu dan berilah dukungan kepadanya serta lakukan pencatatan.
Bayi yang mengalami henti jantung 10 menit kemungkinan besar mengalami kerusakan otak yang permanen.

Tahap III: Asuhan pasca resusitasi

Setelah tindakan resusitasi, diperlukan asuhan pasca resusitasi yang merupakan perawatan intensif selama 2 jam pertama. Asuhan yang diberikan sesuai dengan hasil resusitasi (asuhan pasca resusitasi)yaitu:
  • Jika resusitasi berhasil
  • Jika perlu rujukan
  • Jika resusitasi tidak berhasil

Tindakan resusitasi BBL jika air ketuban bercampur mekonium

Apakah mekonium itu?
Mekonium adalah feses pertama dari BBL. Mekonium kental pekat dan berwarna hijau kehitaman.
Kapan mekonium dikeluarkan?
Biasanya BBL mengeluarkan mekonium pertama kali sesudah persalinan (12 – 24 jam pertama). Kira-kira 15% kasus mekonium dikeluarkan sebelum persalinan dan bercampur dengan air ketuban, hal ini menyebabkan cairan ketuban ebrwarna kehijauan. Mekonium jarang dikeluarkan sebelum 34 minggu kehamilan. Bila mekonium telah terlihat sebelum persalinan dan bayi pada posisi kepala, monitor bayi dengan seksama karena ini merupakan tanda bahaya.
Apa yang menyebabkan janin mengeluarkan mekonium sebelum persalinan?
Tidak selalu jelas mengapa mekonium dikeluarkan sebelum persalinan. Kadang-kadang janin tidak memperoleh oksigen yang cukup (gawat janin). Kekurangan oksigen dapat meningkatkan gerakan usus dan membuat relaksasi otot anus sehingga janin mengeluarkan mekonium. Bayi-bayi dengan risiko lebih tinggi untuk gawat janin seringkali memiliki lebih sering pewarnaan air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan), misalnya bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) atau bayi post matur.
Apakah bahaya air ketuban bercampur mekonium?
Mekonium yang dikeluarkan dan bercampur air ketuban dapat masuk ke dalam paru-paru janin di dalam rahim atau sewaktu bayi mulai bernapas saat lahir. Tersedak mekonium dapat menyebabkan pneumonia dan mungkin kematian.
Apa yang dapat dilakukan untuk membantu seorang bayi bila terdapat air ketuban bercampur mekonium?
Siap untuk melakukan resusitasi bayi apabila cairan ketuban bercampur mekonium. Langkah-langkah tindakan resusitasi pada bayi baru lahir jika air ketuban bercampur mekonium sama dengan pada bayi yang air ketubannya tidak bercampur mekonium hanya berbeda pada:
  • Setelah seluruh badan bayi lahir: penilaian apakah bayi menangis/ bernapas/ bernapas normal/ megap-megap/ tidak bernapas?
Jika menangis/ bernapas normal, klem dan potong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, lanjutkan dengan langkah awal.
Jika megap-megap atau tidak bernapas, buka mulut lebar, dan isap lendir di mulut, klem dan potong tali pusat dengan cepat, tidak diikat dan tidak dibubuhi apapun, dilanjutkan dengan langkah awal.
Keterangan: Pemotongan tali pusat dapat merangsang pernapasan bayi, apabila masih ada air ketuban dan mekonium di jalan napas, bayi bisa tersedak (aspirasi).

Pembahasan penatalaksanaan resusitasi bayi baru lahir dengan asfiksia ini merupakan bagian dari rangkaian penalaksanaan bayi baru lahir dengan asfiksia. Pokok bahasan lainnya yang terkait tidak terpisahkan:
Sumber referensi: Buku Asuhan Persalinan Normal, JNPK-KR 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar, pertanyaan maupun opini anda sangat bermanfaat.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar, kritik dan saran Anda sangat berarti bagi Kami

© 2011 www.nengbidan.com. All Rights Reserved | Privacy Policy