Minggu, 27 November 2011

Pembagian Kala Dalam Persalinan


Kala I Persalinan

Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan lengkap (10 cm). Kala I dibagi menjadi dua fase, yaitu :
Fase laten persalinan:
  1. Dimulai sejak awal kontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan serviks secara bertahap.
  2. Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
  3. Pada umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
Fase aktif persalinan:
  1. Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (kontraksi dianggap adekuat atau memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
  2. Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm pada multipara.
  3. Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

 Back to Top


Kala II Persalinan

Kala dua persalinan dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Kala dua juga disebut sebagai kala pengeluaran bayi. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.

Tanda dan gejala kala II persalinan, yaitu:
  1. Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.
  2. Ibu merasakan adanya peningkatan pada rektum dan/atau vaginanya.
  3. Perineum menonjol.
  4. Vulva vagina dan sfingter ani membuka.
  5. Peningkatan pengeluaran lendir bercampur darah.
Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam (informasi objektif) yang hasilnya adalah :
  1. Pembukaan serviks telah lengkap, atau
  2. Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.

 Back to Top



Kala III Persalinan

Kala tiga persalinan dimulai setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta dan selaput ketuban, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.

Pada kala III persalinan, otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta. Karena tempat perlekatan menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah, maka plasenta akan terlihat, menebal dan kemudian lepas dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau ke dalam vagina.

Tanda-tanda pelepasan plasenta, yaitu:
  1. Perubahan bentuk dan tinggi fundus; setelah bayi lahir dan sebelum miometrum mulai berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh (diskoid) dan tinggi fundus biasanya di bawah pusat, setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong ke bawah, uterus berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau alpukat dan fundus berada diatas pusat (sering kali mengarah ke sisi kanan).
  2. Tali pusat memanjang; tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva (tanda ahfeld).
  3. Semburan darah mendadak dan singkat; darah yang terkumpul di belakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar dan dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah (retroplasental pooling) dalam ruang diantara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang terlepas.
Manajemen Aktif Kala III
Tujuan Manajemen Aktif Kala III ini adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala tiga persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis.
Keuntungan Manajemen Aktif Kala III ini, yaitu:
  1. Persalinan Kala III yang lebih singkat
  2. Mengurangi jumlah kehilangan darah
  3. Mengurangi kejadian retensio plasenta.
Manajemen Aktif Kala III terdiri dari 3 langkah utama :
  1. Pemberian oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir
  2. Melakukan penegangan tali pusat terkendali
  3. Masase fundus uteri.


Kala IV Persalinan

Kala empat persalinan dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum.
Asuhan yang diberikan pada kala IV, yaitu:
  1. Lakukan rangsangan taktil (masase) uterus untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat.
  2. Evaluasi tinggi fundus dengan meletakkan jari tangan secara melintang dengan pusat sebagai patokan. Umumnya, fundus uteri setinggi atau beberapa jari di bawah pusat.
  3. Memperkirakan kehilangan darah secara keseluruhan.
  4. Periksa kemungkinan perdarahan dari robekan (laserasi atau episiotomi) perineum.
  5. Evaluasi keadaan umum ibu.
  6. Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama persalinan kala empat di bagian belakang partograf segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian dilakukan
Sumber: JNPK-KR, Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal, Revisi, 2007

 Back to Top

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar, pertanyaan maupun opini anda sangat bermanfaat.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Komentar, kritik dan saran Anda sangat berarti bagi Kami

© 2011 www.nengbidan.com. All Rights Reserved | Privacy Policy